Kamis, 18 September 2008

I am back!

Manusia berkarya, tiada henti memukau dan memaksa kita menyaluti. Dimana ada saatnya gue melihat karya tulis yang memacu tatapan disetiap rangkaian kata, begitu baik dan nyata, hal-hal yang belum pernah terpikirkan dan hal-hal yang membuka otak … eh … pikiran, dan pernyataan serta pengakuan ironis dunia kita. Syair, bait dan pusisi yang sulit dipahamipun terasa sentimental walau membingungkan. Dimana gue selama ini, kalau orang-orang hebat seperti ini berkeliaran atau mungkin gue yang tidak menyadari. Bakat dari setiap insan tidak selalu terlihat namun pada saat mereka berbicara, pada saat mereka berbuat, disanalah nilai diri terlihat dan ternilai, baik dan buruk.

Dalam kesendirian, gue yakin seringkali kita mendapatkan suatu yang baru, lahir dari dalam benak, khayalan liar dimana kita menjadi seorang yang hebat, yang dikagumi dan menjadi pusat perhatian. Dan ada saatnya pikiran terjerat, berputar pada sesuatu yang kita butuhkan, yang kita inginkan. Sadarkah kita akan arti semua itu, sadarkah kita itu semua mungkin tiada artinya.

Era dunia global, dunia komunikasi berkembang sangat tidak masuk akal melihat cepatnya dan hebatnya tehnologi. Publikasi menjadi alat terkuat untuk mendapatkan keuntungan, selebriti hidup dalam sorotan publik yang gue ga habis pikir dimana sisa prifasi mereka dapat mempertahankan kewarasan mereka. Citra diri adalah segalanya, senyuman palsu dan tipu daya dalam ucapan, persaingan yang membuat apapun halal, apapun akan dilakukan walau tragedi harus terjadi.

Musuh dan teman ada dimanapun kita berada. Tindakan kita selalu bergema, selalu melahirkan rasa. Jika pernah merasakan kepedihan, saat hati bagaikan gravitasi yang sangat kuat, menarik seluruh dunia kita menjadi satuan yang sangat kecil, terpusat dalam detak gelora kebencian atau kesedihan, itulah kutukan terhebat yang dimantrakan musuh, dan juga merupakan kutukan terhebat terhadap musuh kita.

Mulutmu adalah harimaumu, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, maka terpujilah dan terberkatilah mereka yang bisu tuli. Kita manusia memanjatkan doa dan harapan, disetiap saat kita bersyukur, saat kita membutuhkan, hilang kendali dan harapan. Keyakinanmu bukanlah jalan hidupmu melainkan jalan hidupmu adalah keyakinanmu. Prinsip dan tekad bukanlah langkah-langkahmu melainkan langkahmulah yang menjadi prinsip dan tekadmu.

Ide dan filosofi kita tangkap dan renungkan, bukanlah milikmu melainkan milik sipenulis atau dia yang berucap. Yang bisa kita lakukan dari semua itu hanyalah meniru dan mennyamakan diri kita dalam keyakinan penuh. Inginnya kita menjadi bijak, baik hati dan terpuji, ingatlah itu karena kita tidaklah demikian.

Kalimat “jadilah dirimu sendiri” terasa janggal dan aneh buat gue karena apapun yang kita lakukan, itulah kita. Meskipun dalam tindakan meniru orang lain, model rambut dan pakaian, operasi wajah atau apapun bentuk lainnya kita menyangkal keutuhan diri kita adalah jati diri kita. Itulah kita, itulah kamu, itulah dia…

Tidak ada komentar: